Aki atau accu merupakan salah satu komponen paling penting pada mobil. Berbeda dengan sepeda motor yang masih bisa menggunakan kick starter saat aki lemah, mobil tidak memiliki alternatif tersebut. Saat aki soak, satu-satunya cara untuk menyalakan mesin adalah dengan “jumper” dari aki mobil lain atau dengan cara didorong.
Tentu hal ini sangat merepotkan jika terjadi di situasi darurat. Oleh karena itu, menjaga kondisi aki agar tetap prima adalah hal yang wajib dilakukan, salah satunya dengan memastikan volume air aki selalu berada pada batas yang dianjurkan.
Apakah Aki Bisa Meledak Jika Kering?
Banyak beredar mitos bahwa aki bisa meledak jika dibiarkan kering. Faktanya, kondisi ini memang bisa terjadi dalam situasi tertentu, terutama jika terjadi reaksi kimia yang tidak normal di dalam aki.
Untuk mencegahnya, Anda harus segera melakukan pengisian ulang air aki jika volumenya berkurang. Namun perlu diingat, jangan mengisi air aki melebihi batas maksimal, karena dapat menyebabkan pengapuran pada terminal aki. Hal ini akan menurunkan performa dan memperpendek usia pakai aki.
Perhatikan Jenis Air Aki
Di pasaran, terdapat dua jenis cairan aki yang umum digunakan, yaitu:
1. Accu Zuur (Warna Merah)
Accu zuur berisi asam sulfat (H₂SO₄). Cairan ini sangat korosif dan dapat menyebabkan iritasi jika terkena kulit.
Fungsinya adalah untuk pengisian awal aki baru (aki kering yang belum terisi).
2. Air Aki (Warna Biru)
Air aki berwarna biru berisi air murni (H₂O). Cairan ini digunakan untuk menambah volume air aki yang berkurang akibat penguapan atau pemakaian.
Catatan Penting
- Jangan menambah air aki merah (accu zuur) pada aki yang sudah terisi, karena dapat meningkatkan kadar asam dan merusak sel aki.
- Jika dalam kondisi darurat dan tidak ada air aki biru, air mineral kemasan bisa digunakan sementara, namun hanya sebagai solusi darurat.
- Segera lakukan pengisian ulang dengan cairan yang benar setelahnya.


